Beberapa hari yang lalu kira-kira pkl. 22.00 wib saya memanggil seorang teknisi untuk memperbaiki genset yang secara mendadak tidak bisa beroperasi. Melalui handphone saya hubungi saudara ini, dan langsung mengiayakan untuk datang, padahal itu hampir tengah malam. Dalam hal ini saja saya sudah bersyukur banget, sebab biasanya sangat sulit untuk memanggil orang datang membantu kita khususnya pada malam hari. Saudara ini langsung meluncur dengan sepeda motor beserta istrinya.
Selidik, punya selidik, bongkar sana-sini, akhirnya genset-nya bisa kembali beroperasi. Puji Tuhan!
Setelah semuanya selesai, saya ucapin terimakasih serta menyalamkan 'PK ' (persembhan kasih). Namun saya betul-betul terpesona dengan saudara ini, sebab ia menolak 'PK' tersebut dengan alasan ia bekerja untuk Tuhan.
Saya terpesona dengan sikap saudara ini yang tidak terlalu hitung-hitungan dengn pekerjaan Tuhan, baik dalam soal waktu, dan soal upah.
Di akhir zaman ini hampir semua orang mengharapkan imbalan, mengharapkan balas jasa. Ada orang berkorban untuk gereja, tetapi ia mengharapkan supaya gembala memperhatikannya secara khusus, ada anak Tuhan rajin beribadah, rajin berdoa hanya mengharapkan supaya terlibat dalam pelayanan. Bahkan ada orang mau melayani ; singers, tambourine, banners, bermain musik di gereja apabila ada 'tips' bulanan dari gereja lokal.
Namun kita patut bersyukur sebab masih ada anak Tuhan seperti saudara di atas, yang mau melayani dengan tulus, dan mengharapkan upah dari Tuhan, bukan dari manusia. Dan saya pikir bahwa pasti lebih besar upah dari Tuhan daripada upah yang diberikan oleh manusia.
Kita berdoa dan berharap supaya semua anak-anak Tuhan mempunyai hati yang melayani dengan tulus dengan mengharapkan upah dari Tuhan! Haleluyah.
Monday, September 15, 2008
Thursday, July 24, 2008
MENJAGA KOMITMEN
Filipi 3:4-16
Banyak tokoh di dunia ini yang bisa menginspirasi masyarakat luas untuk jangka waktu yang cukup lama. Di antaranya, Martin Luther King, Jr., yang berjuang melawan diskriminasi ras di Amerika Serikat dan William Wilberforce, yang berjuang menghapus perbudakan di Inggris. Apakah kunci keberhasilan mereka? Mereka terus menjaga komitmen yang telah dibuat. Walaupun harus mengalami masa-masa berat, mereka pantang menyerah sehingga mencapai akhir perjuangan.
Alkitab juga mencatat tokoh-tokoh yang menjaga komitmen hingga akhir. Contohnya Paulus. Setelah bertobat, ia memberitakan Injil, terutama kepada bangsa bukan Yahudi. Dan itu sungguh tak mudah. Begitu banyak tantangan berat menghampirinya ; dari kaum Yahudi, dari bukan orang-orang Yahudi, dari alam (2 Korintus 11:23-33), bahkan dari penyakit tubuhnya (2 Korintus 12:7,8). Namun, ia tetap menjaga komitmennya. Rahasianya? Dari waktu ke waktu ia menjalani pertandingan iman dengan selalu melupakan apa yang di belakang (dalam bahasa Yunani kata “melupakan” di sini tidak sama seperti kalau kita lupa sesuatu. Ini lebih berarti tidak berfokus ke masa lalu, tetapi kepada tujuan, visi hidup di depan) dan mengarahkan diri kepada tujuan hidupnya, yakni memenuhi panggilan Tuhan. (Filipi 3:13,14)
Apakah juga berbagai tantangan juga terus menghantam hingga Anda sulit menjaga komitmen – terhadapa keluarga, pekerjaan, studi, atau pelayanan? Seperti Paulus, kita ini hamba yang tuntut untuk taat, maka mintalah kekuatan dari Dia. Seperti Paulus, kita ini hamba yang Tuhan pilih dan layakkan untuk menjadi saksi-Nya, maka ingatlah betapa pentingnya tugas yang harus terus kita kerjakan. Tuhan memberkati dan menguatkan kita. Haleluyah.**
Banyak tokoh di dunia ini yang bisa menginspirasi masyarakat luas untuk jangka waktu yang cukup lama. Di antaranya, Martin Luther King, Jr., yang berjuang melawan diskriminasi ras di Amerika Serikat dan William Wilberforce, yang berjuang menghapus perbudakan di Inggris. Apakah kunci keberhasilan mereka? Mereka terus menjaga komitmen yang telah dibuat. Walaupun harus mengalami masa-masa berat, mereka pantang menyerah sehingga mencapai akhir perjuangan.
Alkitab juga mencatat tokoh-tokoh yang menjaga komitmen hingga akhir. Contohnya Paulus. Setelah bertobat, ia memberitakan Injil, terutama kepada bangsa bukan Yahudi. Dan itu sungguh tak mudah. Begitu banyak tantangan berat menghampirinya ; dari kaum Yahudi, dari bukan orang-orang Yahudi, dari alam (2 Korintus 11:23-33), bahkan dari penyakit tubuhnya (2 Korintus 12:7,8). Namun, ia tetap menjaga komitmennya. Rahasianya? Dari waktu ke waktu ia menjalani pertandingan iman dengan selalu melupakan apa yang di belakang (dalam bahasa Yunani kata “melupakan” di sini tidak sama seperti kalau kita lupa sesuatu. Ini lebih berarti tidak berfokus ke masa lalu, tetapi kepada tujuan, visi hidup di depan) dan mengarahkan diri kepada tujuan hidupnya, yakni memenuhi panggilan Tuhan. (Filipi 3:13,14)
Apakah juga berbagai tantangan juga terus menghantam hingga Anda sulit menjaga komitmen – terhadapa keluarga, pekerjaan, studi, atau pelayanan? Seperti Paulus, kita ini hamba yang tuntut untuk taat, maka mintalah kekuatan dari Dia. Seperti Paulus, kita ini hamba yang Tuhan pilih dan layakkan untuk menjadi saksi-Nya, maka ingatlah betapa pentingnya tugas yang harus terus kita kerjakan. Tuhan memberkati dan menguatkan kita. Haleluyah.**
Subscribe to:
Posts (Atom)